Selasa, 09 Juni 2009

Senin, 22 Desember 2008

Rabu, 30 April 2008

Naskah Oke!

Senangnya Menolong Adik

Oleh Dian A Dewi


Sali dan Saliha bermain kejar-kejaran di halaman rumah.

Tiba-tiba Sali jatuh tersandung batu. Bruk!

(Gambar: Sali dan Saliha berlari-lari di halaman rumah)

Hal 4-5.



Saliha berlari menghampiri adiknya.

“Sakit, ya?” tanya Saliha.

“Iya, Kak,” jawab Sali sambil menahan sakit. Lututnya terluka.

(Gambar: Saliha menghampiri Sali yang terjatuh)

Hal 6-7



Saliha membantu Sali berjalan ke teras.

“Kamu tunggu dulu ya. Aku ambilkan obat,” pesan Saliha sambil berlari ke dalam rumah.

(Gambar: Saliha membimbing Sali ke teras)

Hal 8-9



Saliha kemudian kembali sambil membawa kotak obat.

Saliha membersihkan luka Sali dan mengoleskan obat merah.

Saliha kemudian menempelkan plester untuk menutup luka Sali.

(Gambar: Saliha merawat luka Sali di teras)

Hal 10-11.



“Terima kasih ya, Kak,” kata Sali.

"Cepat sembuh ya Sali," doa Saliha.

Sali tersenyum. Dia bahagia mempunyai kakak sebaik Saliha.

(Gambar: Sali duduk dengan Saliha di teras. Luka di lutut Sali sudah ditutup pembalut.).

Hal 12-13.





Ya, Saliha adalah kakak yang baik.

Saliha senang menolong Sali.

Hal 14-15



Saliha menolong Sali mengambilkan buku dari rak.

Saliha tahu Sali belum bisa mengambil buku dari rak yang tinggi.

(Saliha mengambilkan buku dari rak yang tinggi. Sali memerhatikan kakaknya)

Hal 16-17


Saliha senang membantu Sali menuangkan air minum.

Sali belum kuat menuangkan air minum dari botol yang berat.

(Gambar: Saliha menuangkan air dari botol ke gelas Sali. Sali memperhatikan kakaknya)

Hal 18-19



Saliha juga mengajarkan Sali memasang tali sepatu.

Sali belum bisa mengikat tali sepatu sendiri.

(Gambar: Saliha membantu Sali mengikat tali sepatu).

Hal 20-21.




Sali sangat menyayangi kakaknya, karena Saliha selalu senang menolongnya.

(Gambar: kakak adik berpelukan).


Hal 22-23.


Sinopsis:

* Buku ini menceritakan tentang Saliha yang gemar membantu adiknya yang masih kecil.
* Karena gemar menolong, Saliha disayangi adiknya.




Senangnya Membantu Ibu


Oleh Dian A Dewi


Sali dan Saliha bermain di halaman rumah. Tiba-tiba,
terdengar suara bajaj mendekat.

"Ibu pulang, ibu pulang !" sorak Sali dan Saliha senang.

Mereka pun bergegas berlari ke luar halaman.

(Gambar: halaman rumah Sali dan Saliha. Terlihat ada bajaj datang)

Hal 4-5.


Ibu menurunkan belajaannya.

"Wah, belanjaan ibu banyak sekali!"ujar Saliha.

"Yuk kita bantu ibu," ajak Sali.

(Gambar: ibu terlihat menurunkan beberapa kantong plastik dan tas. Ibu
terlihat kerepotan.)

Hal 6-7


"Ibu, Saliha bawakan tas sayurannya, ya?" kata Saliha menawarkan
bantuannya.

"Terima kasih, Saliha, Kamu memang anak yang baik " kata ibu sambil
menyerahkan tas sayuran ke Saliha.

(Gambar: ibu menyerahkan satu tas ke Saliha.)

Hal 8-9


"Ibu, boleh Sali bawakan tasnya juga?" tanya Sali tak mau kalah.
"Boleh Sali," jawab ibu sambil tersenyum. "Ini, tolong bawakan tas
makanannya. "

(Gambar: ibu menyerahkan satu tas ke Sali.)

Hal 10-11.


Sekarang, ibu tidak lagi repot membawa barang.

Di rumah, ibu langsung membagikan oleh-oleh kepada Sali dan Saliha.

(Gambar: Ibu, Sali dan Saliha berjalan dengan gembira. Masing-masing
membawa tas belanja).

Hal 12-13.


Ya, Sali dan Saliha adalah anak yang gemar membantu ibu.

Hal 14-15


Saliha selalu menolong ibu memasak di dapur.

Berkat bantuan Saliha, ibu dapat memasak dengan cepat.

(Gambar: Saliha dan ibu di dapur)

Hal 16-17


Sali senantiasa membantu ibu membereskan meja makan.

Ibu menjadi senang karena pekerjaannya menjadi ringan.

(Gambar: Sali membantu ibu membereskan meja makan)

Hal 18-19


Sali dan Saliha juga gemar membantu ibu membersihkan rumah.

Rumah pun menjadi bersih dengan cepat.
(Gambar: SAli dan Saliha membersihkan rumah bersama ibu).

Hal 20-21.


Karena sering menolong, Sali dan Saliha meringankan beban ibu.

Ibu jadi makin sayang kepada mereka.

(Gambar: ibu memeluk Sali dan Saliha).

Hal 22-23.

Sinopsis:

* Buku ini menceritakan tentang Sali dan Saliha yang gemar
menolong ibu.
* Karena gemar menolong, maka beban ibu berkurang.




SERI MEMBENTUK KARAKTER
Indahnya Memaafkan

Oleh Isfand Samyono

“Sali, kita main ke rumah Lukman, yuk!” ajak Faisal.

”Aku tidak mau ke rumah Lukman lagi!” seru Sali.

(gambar: Faisal berdiri di depan rumah Sali sambil melambai )
Hal 4-5


“Kenapa kamu tidak mau ke rumahnya?” tanya Faisal.

”Lukman mendorongku sampai jatuh kemarin!” jawab Sali.
Hal 6-7



“Lukman juga pernah mendorongku, tapi aku tidak marah,” kata Faisal.

”Kenapa kamu tidak marah sama Lukman?" tanya Sali.

“Dia tidak sengaja mendorongku dan sudah meminta maaf,” kata Faisal.
Hal 8-9



” O, mungkin Lukman juga tidak sengaja mendorongku.
Terimakasih Faisal, kamu sudah mengingatkanku,” kata Sali lagi.

”Kalau begitu, ayo kita ke rumah Lukman!”ajak Faisal dengan ceria.
Hal 10-11

Ya, Faisal memang senang memaafkan teman-temannya. Apalagi jika kesalahan itu tidak disengaja.
Hal 12-13

Faisal memaafkan Santi yang tidak sengaja menghilangkan pensil kesayangannya.
Hal 14-15

Faisal memaafkan Jufri karena lupa janji datang ke rumahnya.
Hal 16-17

Faisal memaafkan Andi yang terlambat mengembalikan buku kesayangannya.
Hal 18-19

Faisal memaafkan mama karena lupa ulang-tahunya.
Hal 20-21

Karena senang memaafkan orang lain, Faisal mempunyai banyak teman dan semua teman-teman suka padanya.

Hal 22-23

Sinopsis:

Buku ini menceritakan Faisal yang pemaaf.

Karena pemaaf, Faisal disukai dan disenangi temannya.





SERI MEMBENTUK KARAKTER
Asyiknya Rajin Belajar

Oleh: Isfand Samyono


Guru membagikan nilai hasil latihan pelajaran berhitung. Saliha mendapatkan nilai memuaskan karena benar semua. Mirna mendapat nilai cukup karena salah tiga.

(gambar suasana kelas, murid-murid sedang melihat hasil ulangan masing-masing)
Hal 4-5

”Wah, senangnya kalau bisa terus mendapatkan nilai bagus seperti kamu!” kata Mirna.

”Kamu bisa juga kok,” kata Saliha.

(gambar: Saliha melihat hasil latihan Mirna)
Hal 6-7

”Bagaimana caranya?” tanya Mirna.

”Kita harus rajin belajar, apalagi kalau pelajarannya sulit,” Jawab Saliha.
Hal 8-9

“Tapi kalau terus belajar, kapan mainnya?” tanya Mirna.

”Sebelum dan sesudah belajar kita bisa bermain. Kita juga bisa belajar sambil bermain lho, seperti main warung-warungan,” kata Saliha bersemangat.
Hal 10-11

Ya, Saliha memang rajin belajar. Saliha tidak pernah lupa mengulang pelajaran yang sudah diterangkan di sekolah. Apalagi kalau pelajarannya susah.
Hal 12-13

Saliha rajin mengerjakan PR dari sekolah tampa menunda-nunda waktu.
Hal 14-15

Saliha rajin bertanya pada guru ketika tidak tahu.
Hal 16-17

Saliha rajin mengulang pelajaran yang telah diterangkan oleh guru.
Hal 18-19

Saliha selalu bertanya jika ada kesulitan pada ayah dan ibu.
Hal 20-21

Karena rajin belajar, Saliha selalu mendapat nilai yang bagus di kelas.

Hal 22-23

Sinopsis:

Buku ini menceritakan Saliha yang rajin belajar.

Karena rajin belajar, Saliha selalu mendapat nilai yang bagus di kelas.






SERI MEMBENTUK KARAKTER
Menahan Marah

Oleh Isna Keumala

”Hanna, sudah selesai belum memakai pensil Barbie-ku?” tanya Saliha.

”Sudah, tadi aku taruh di sini. Kok sekarang tidak ada ya?” jawab Hanna.

(Gambar: Saliha bertanya kepada Hanna. Suasana di dalam kelas ketika bersiap-siap pulang)
Hal 4-5


”Hanna, aku akan sedih sekali jika kamu menghilangkan pensil kesayanganku lagi!” kata Saliha mulai kesal.

”Bagaimana jika besok saja kita cari, Saliha. Aku mau pulang, sudah lapar nih!”, tawar Hanna.

(Gambar: Hanna sudah bersiap ke luar pintu, sementara Saliha masih menunggu di samping meja)
Hal 6-7



Saliha menarik nafas panjang.

”Hanna, lain kali aku tidak mau meminjamkan barang-barangku, jika kamu tidak mau menemukan pensilku sekarang!” tegas Saliha.
”Iya deh Saliha, maaf, aku akan mencarinya sekarang,” jawab Hanna sambil mencari.

(Gambar: Saliha dan Hanna sedang mencari)
Hal 8-9

”Aku akan meminjamkan barang milikku lagi jika kamu bisa menjaganya dengan baik,” jawab Saliha.

”Syukurnya kamu teman yang baik Saliha, tidak mudah marah,” kata Hanna dengan tersenyum.

(Gambar: Hanna menemukan pensil di lantai).
Hal 10-11


Ya Saliha memang tidak mudah marah. Saliha senang mempunyai banyak teman. Saliha akan mengingatkan temannya yang melakukan kesalahan, tanpa harus marah.
(gambar: Saliha merah padam?)
Hal 12-13


Saliha bisa menahan marah ketika Sali mematahkan pensil Saliha secara tidak sengaja.

(gambar: Sali menunjukkan pensil yang patah kepada Saliha dengan muka kecewa)
Hal 14-15


Saliha bisa menahan marah dan mengingatkan teman yang mengambil kuenya tanpa permisi.

(gambar: seorang anak memegang kue dan tertawa-tawa ke arah Saliha)
Hal 16-17


Saliha bisa menahan marah dan mengingatkan teman yang mendorongnya saat berbaris ke dalam kelas.

(gambar: anak2 berbaris dan dorong mendorong, ada yang marah, ada yang ketawa senang)
Hal 18-19


Saliha menarik nafas dan mengucapkan A’udzubillahi minasy syaitan nir rajiim untuk menenangkan hatinya saat mulai marah.

(gambar: Saliha duduk dan mulutnya terlihat menghembuskan nafas)
Hal 20-21

Karena Saliha bisa menahan marah, maka teman-temannya senang saat diingatkan kesalahannya. Saliha mempunyai banyak teman.

Hal 22-23

Sinopsis:

Buku ini menceritakan Saliha yang bisa menahan marah.

Karena bisa menahan marah, Saliha mudah berteman.





SERI MEMBENTUK KARAKTER

Menepati Janji

Oleh Hani Iskadarwati

“Saliha, yuk main ke rumahku hari ini. Aku punya rumah boneka dan mainan baru, ” kata Alika

“Aku sudah janji pada Maryam untuk belajar bersama,” jawab Saliha.

(gambar suasana sekolah saat sekolah usai, anak-anak berlarian pulang dengan ceria.)

Hal 4-5


Alika sangat kecewa,” Aku tak suka bermain boneka sendiri, Saliha.”

“Aku sangat senang bermain denganmu Alika, tapi aku sudah berjanji pada Maryam,” kata Saliha.

(gambar: bayangan kamar Alika yang mewah aneka mainan dan rumah boneka)

Hal 6-7


“Bagaimana kalau kita bermain sesudah aku selesai belajar bersama?” tanya Saliha.

“Tentu saja boleh, Saliha. Kita ajak saja Maryam untuk bermain bersama,” kata Alika sambil tersenyum.

Hal 8-9


“Kamu baik sekali Alika. Aku akan ajak Maryam insya Allah untuk bermain bersama,” kata Saliha.

“Aku tunggu kamu datang bersama Maryam nanti,” kata Alika dengan ceria.

Hal 10-11


Ya, Saliha memang anak yang selalu menepati janji. Saliha selalu berusaha menjaga janji. Saliha sangat berhati-hati membuat janji.

Hal 12-13

Saliha tak tergoda untuk bermain dengan mainan baru bila sudah berjanji untuk belajar bersama.

Hal 14-15

Saliha selalu datang tepat waktu saat berjanji untuk bertemu.

Hal 16-17

Saliha selalu mengucapkan insya Allah saat membuat janji.

Hal 18-19

Saliha selalu berusaha untuk menepati janjinya.

Hal 20-21

Karena selalu menepati janjinya kepada siapapun, Saliha selalu dipercaya.

Saliha dipercaya oleh teman, guru dan orang tuanya.

Hal 22-23

Sinopsis:

Buku ini menceritakan Saliha yang selalu menepati janji.

Karena selalu menepati janji, semua orang percaya kepadanya.






SERI MEMBENTUK KARAKTER
Menyampaikan Titipan
Oleh: Meidya Derni

"Saliha, aku minta tolong sama kamu ya," kata Hellen.
"Aku senang kalau bisa menolongmu," kata Saliha.
(gambar suasana di sekolah)
Hal 4-5


"Bu Jamilah kemarin sore ke rumahku. Tapi Bu Jamilah lupa membawa payungnya pulang," kata Hellen.
"Insya Allah aku bisa bisa antarkan. Aku pulang melewati rumah Bu Jamilah,” kata Saliha.
(gambar Helen menunjukkan payung)
Hal 6-7


"Terima kasih, kamu baik sekali. Sampaikan salam untuk Bu Jamilah ya," kata Hellen.
"Insya Allah aku sampaikan juga," kata Saliha.
Hal 8-9


Saliha mengantarkan payung itu kepada Bu Jamilah.
Saliha juga menyampaikan salam dari Hellen.
Bu Jamilah kemudian memberi hadiah sekotak kue untuk Saliha.
Hal 10-11


Ya, Saliha memang selalu menyampaikan titipan. Baik dari teman-teman atau siapa pun.
Hal 12-13


Saliha menyampaikan titipan surat dari Bu Guru untuk ayah dan ibu.
Hal 14-15


Saliha menyampaikan titipan makanan dari ibu untuk Tante Mia.
Hal 16-17


Saliha menyampaikan titipan buku dari kakek untuk Sali.
Hal 18-19


Saliha menyampaikan titipan uang dari ayah untuk nenek.
Hal 20-21


Karena dapat menyampaikan titipan, Saliha pun dipercaya. Semua orang sayang padanya.
Hal 22-23


Sinopsis:

* Buku ini menceritakan Saliha yang selalu dapat menyampaikan titipan.
* Karena dapat menyampaikan titipan, Saliha dipercaya banyak orang.





Bekerja Sama itu Menyenangkan

Oleh: Wylvera W

Sebentar lagi ibu akan pulang dari pasar. Saliha mengajak Sali merapikan kamar.

”Yuk. Kita rapikan buku-bukunya saja dulu, baru kemudian mainan,” ajak Saliha.

(gambar: kamar yang berantakan oleh bermacam mainan dan buku)

Hal 4-5


”Kenapa kita tidak menyuruh Bi Inah saja kak?” tanya Sali

”Kalau kita bekerjasama, InsyaAllah kamar ini bisa rapi dengan cepat,” kata Saliha.

(gambar: di lantai, buku-buku sudah tersusun hanya tinggal mobil-mobilan yang berserakan)

Hal 6-7


”Baiklah, aku yang meletakkan buku ke dalam rak, kak Saliha yang menyusun mainanku ke atas rak buku,” kata Sali.

Saliha mengangguk sambil tersenyum.

(gambar: Saliha merapikan mainan, Sali menyusun buku-buku ke dalam rak)

Hal 8-9


Betapa senangnya mereka. Karena sebelum Ibu datang, kamar mereka kembali terlihat rapi.

(gambar: kamar yang kembali rapi dengan mainan dan buku tertata di tempatnya)

Hal 10-11


Saliha selalu senang mengajak adiknya untuk melakukan pekerjaan bersama-sama.

Hal 12-13

Saliha dan Sali selalu bekerjasama merapikan kamar tidur setiap pagi.

Sali yang merapikan tempat tidur. Saliha yang menyapu lantai.

Hal 14-15

Saliha dan Sali selalu bekerjasama membersihkan halaman. Saliha menyapu daun yang berguguran. Sali yang membuangnya ke tempat sampah.

Hal 16-17

Saliha dan Sali selalu bekerjasama membantu Ibu membersihkan kamar mandi. Sali yang menyikat lantai kamar mandi. Saliha yang membersihkan baknya.

Hal 18-19

Saliha dan Sali selalu bekerjasama membantu ayah saat berkebun.

Sali yang mengumpulkan bibit tanaman. Saliha yang membantu ayah menanam.

Hal 20-21

Karena setiap tugas di rumah dilakukan dengan kerjasama, maka Saliha dan Sali tak pernah merasa kesulitan.

Hal 22-23

Sinopsis :

* Buku ini menceritakan kerjasama yang baik.
* Karena selalu bekerjasama, semua pekerjaan jadi lebih ringan dan menyenangkan.

Selasa, 25 September 2007

#13 Genre Bacaan Anak

Genre Buku Cerita Anak
===========================================


Baby books

Untuk bayi dan batita (bawah tiga tahun). Kebanyakan
materinya berupa pantun dan nyanyian sederhana (lullabies and nursery
rhymes), permainan dengan jari, atau sekadar ilustrasi cerita tanpa
kata-kata sama sekali (sepenuhnya mengandalkan ilustrasi serta
kreativitas orang tua dan anak untuk berimajinasi). Panjang cerita
dan formatnya beragam, disesuaikan dengan isi materi. Buku-buku untuk
batita biasanya berupa cerita sederhana berisi kurang dari 300 kata.
Ceritanya terkait erat dengan keseharian anak, atau bermuatan
edukatif tentang pengenalan warna, angka, bentuk, dan lain-lain.
Jumlah halaman sekitar 12 dan banyak yang berbentuk board books (buku
yang kertasnya sangat tebal, seperti karton), pop-ups (buku yang
halamannya berbentuk tiga dimensi), lift-the flaps atau buku-buku
khusus (buku-buku yang dapat bersuara, memiliki format unik atau
dengan tekstur tertentu).

Picture books

Pada umumnya berbentuk buku setebal 32 halaman untuk
anak usia 4–8 tahun. Naskahnya bisa mencapai 1.500 kata, namun rata-
rata 1.000 kata saja. Plotnya masih sederhana, dengan satu karakter
utama yang seutuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi alat
penyentuh emosi dan pola pikir anak. Ilustrasi memainkan peran yang
sama besar dengan teks dalam penyampaian cerita. Buku anak pada genre
ini bisa menggunakan lebih dari 1.500 kata, biasanya sebagai
persiapan bagi pembaca yang memasuki masa-masa puncak di spektrum
usianya. Buku genre ini sudah membicarakan topik serta menggunakan
gaya penulisan yang luas dan beragam. Cerita nonfiksi dalam format
ini dapat menjangkau sampai usia 10 tahun, dengan tebal sampai 48
halaman, dan berisi hingga 2.000 kata dalam teksnya.

Early picture books

Sebentuk dengan picture books, namun dilengkapi
sedemikian rupa untuk usia-usia akhir di batas 4 hingga 8 tahun.
Ceritanya sederhana dan berisi kurang dari 1.000 kata. Banyak buku
genre ini yang dicetak ulang dalam format board book untuk melebarkan
jangkauan pembacanya. The Very Hungry Caterpillar (Philomel
Publishing) karya Eric Carle salah satu contohnya.
Easy readers. Juga dikenal dengan sebutan easy-to-read, buku-buku
genre ini biasanya untuk anak-anak yang baru mulai membaca sendiri
(usia 6–8 tahun). Masih tetap ada ilustrasi berwarna di setiap
halamannya, tapi dengan format yang sedikit lebih "dewasa": ukuran
trim per halaman bukunya lebih kecil dan ceritanya dibagi dalam bab-
bab pendek. Tebal buku biasanya 32–64 halaman dan panjang teksnya
beragam antara 200–1.500 kata, atau paling banyak 2.000 kata. Cerita
disampaikan dalam bentuk aksi dan percakapan interaktif, menggunakan
kalimat-kalimat sederhana (satu gagasan per kalimat). Biasanya ada 2–
5 kalimat di tiap halaman. Seri I Can Read yang diterbitkan Harper
Trophy merupakan contoh terbaik buku genre ini.

Transition books

Kadang disebut juga sebagai "chapter books tahap
awal", untuk anak usia 6–9 tahun. Merupakan jembatan penghubung
antara genre easy readers dan chapter books. Gaya penulisannya persis
seperti easy readers, namun lebih panjang (naskah biasanya sebanyak
30 halaman, dipecah menjadi 2–3 halaman per bab), ukuran trim per
halamannya lebih kecil lagi, serta dilengkapi dengan ilustrasi hitam-
putih di beberapa halaman. Serial The Kids of the Polk Street School
karya Patricia Reilly Giff (Dell Young Yearling Publishing) dan seri
Stepping Stone Books yang diterbitkan Random House masuk dalam
kelompok genre ini.

Chapter books

Untuk usia 7–10 tahun. Terdiri dari naskah setebal 45–
60 halaman yang dibagi dalam tiga hingga empat halaman per bab.
Kisahnya lebih padat dibanding genre transition books, walaupun tetap
memakai banyak ramuan aksi petualangan. Kalimat-kalimatnya mulai
sedikit kompleks, tapi paragraf yang dipakai pendek (rata-rata 2–4
kalimat). Tipikal dari genre ini adalah cerita di akhir setiap bab
dibuat menggantung di tengah-tengah sebuah kejadian agar pembaca
penasaran dan terstimulasi untuk terus membuka bab-bab selanjutnya.
Serial Herbie Jones karangan Suzy Kline (Puffin Publishing) dan
Ramona karya Beverly Cleary (Morrow Publishing) dikatakan masuk dalam
genre buku anak ini.

Middle grade

Untuk usia 8–12 tahun, merupakan usia emas anak dalam
membaca. Naskahnya lebih panjang (100–150 halaman), ceritanya mulai
kompleks (bagian-bagian sub-plot menampilkan banyak karakter tambahan
yang berperan penting dalam jalinan cerita), dan tema-temanya cukup
modern. Anak-anak di usia ini mulai tertarik dan mengidolakan
karakter dalam cerita. Hal ini menjelaskan keberhasilan beberapa seri
petualangan yang terdiri dari 20 atau lebih buku dengan tokoh yang
sama. Kelompok fiksinya beragam mulai dari fiksi kontemporer,
sejarah, hingga science-fiction atau petualangan fantasi. Sementara
yang masuk kelompok nonfiksi antara lain biografi, iptek, dan topik-
topik multibudaya.

Young adult

Naskahnya antara 130–200 halaman, genre ini untuk anak
usia 12 tahun ke atas. Plot ceritanya bisa sangat "ruwet" dengan
banyak karakter utama, meskipun tetap ada satu karakter yang
difokuskan. Tema-tema yang diangkat seringnya relevan dengan
kehidupan remaja saat ini. Buku The Outsiders karya S.E. Hinton
menjadi tonggak sejarah buku cerita anak di genre ini yang
menceritakan permasalahan remaja saat itu ketika pertama kali
diterbitkan pada tahun 1967. Kategori new-age (usia 10–14 tahun)
perlu diperhatikan, terutama untuk buku-buku kelompok nonfiksi
remaja. Buku-buku di kelompok ini sedikit lebih pendek dibanding
untuk kelompok usia 12 tahun ke atas, serta topiknya (fiksi dan
nonfiksi) lebih cocok untuk anak-anak yang telah melewati buku genre
middle grade, tetapi belum siap membaca buku-buku fiksi atau belum
mempelajari subjek nonfiksi yang materinya ditujukan untuk pembaca di
kelas sekolah menengah.

Kamis, 12 Juli 2007

#12 Menghindari Kemiripan

Kebiasaan saya menulis cerita anak (cerpen) adalah di satu waktu saya menulis beberapa cerita sekaligus. Pada awalnya saya melihat cerita yang saya tulis itu mirip dan sering kali terjadi pengulangan. Entah itu gaya bahasa, setting dan sebagainya. Akhirnya saya menemukan pola sendiri.

Katakan, saya memiliki target di akhir pekan menulis 5 cernak. Maka saya akan atur mengetiknya: 1. Saya tulis cerita realitas dulu, setting sekolah, tokoh lelaki. 2. Saya tulis dongeng kerajaan, tema misteri. 3. Saya tulis cerita realitas, setting kursus balet, tokoh utama perempuan. 4. Saya tulis fabel, komedi. 5. Saya tulis lagi cerita ralitas.

Dengan membuat selang-sleing jenis tulisan, akhirnya saya bisa terhindar dari kemiripan atau pengulangan kata, setting, atau tokoh.

Selamat mencoba!

#11 Ikut Lomba

Tertarik mengikuti lomba penulisan cerita anak? Karena saya beberapa kali menang, saya ingin berbagi beberapa tips:

1. Simak dengan jelas pengumuman lengkapnya. Ikuti aturannya. Penuhi temanya. Perhatikan tenggat waktunya. Jangan ketinggalan syaratnya.

2. Baca hasil pemenang lomba tersebut sebelumnya untuk mengetahui selera juri. Jika tidak ada, kita harus mencari tema cerita yang kuat.

3. Sebisa mungkin kirim lebih dari satu karya. Tapi tetap kita punya satu karya 'jagoan'.

4. Minta orang-orang terdekat untuk ikut membaca.

5. Tempelkan pengumuman lomba di dekat komputer. Lingkari hadiah utamanya.

6. Ingat, jangan salah kirim. Pilih ekspedisi terpercaya. Kalau perlu diantar langsung.

7. Berdoa dan ikhlaskan apapun hasilnya.


semoga Anda beruntung!

Rabu, 11 Juli 2007

#10 Ambil Spesialis

Ada banyak genre di penulisan cerita anak. Mungkin sama halnya dengan spesialisasi di kedokteran. Tapi saya sarankan sbeaiknya ambil dulu yang umum. Jadilag penulis cerita anak yang bisa menulis semua genre dulu. Setelah kita menjalaninya, lalu merasakan keasyikannya, maka kita bisa mengambil genre etertentu untuk kita tekuni.

Banyak penulis pemula yang langsung mengambil genre tertentu. Okay, itu tidak masalah. Tapi biasanya mereka akan kesulitan ketika harus bereksplorasi dengan genrenya. Karenanya ambil dulu genre umum.

Cobalah menulis dongeng, cerpen realita, kisah fantasi, humor, petualangan, cerita untuk balita, cerita untuk anak SD. Semakin banyak jenis tulisan yang kita kuasai, kita akan semakin mudah mengenali kemampuan dan kekuatan kita.

Jika sudah waktunya, segera ambil spesialisasi. Tekuni!

Saya sendiri sejak awal menulis sebenarnya ingin menjadi penulis cerita realita anak-anak dengan balutan komedi dan sedikit petualangan (semacam seri Pippi atau Mallory Towers). Saya bisa menulis dongeng, fantasi atau lainnya, tapi saya merasa kurang kuat. Dengan dipilihnya spesialisasi
itu, saya pun lebih fokus memperkaya referensi saya. Bukan berarti saya menutup mata dengan referensi genre lainnya. Tapi saya akan membuat prioritas.


Spesialisasi akan membuat kita makin matang. Mungkin juga ke arah profesional.
Tapi saya sarankan ke pada penulis pemula untuk mencoba menulis secara general dulu.
Memilih spesialisasi, selain mengukur kemampuan dan minta kita, juga melihat celah kemungkinan untuk memasukinya. Mungkinkah untuk genre tersebut di Indonesia masih langaka atau sudah penuh. Sebut saja untuk genre penulis cerita pictorial book, kita tahu nama-nama seperti Ali Muakhir, Renny Yaniar, Nur Ayati Giga dan Arleen Amidjaya yang sangat produktif. Mungkinkah kita menyaingi mereka?

Bagimana dengan cerita misteri? masih adakah peluang? Bagaimana dengan cerita petualangan? cerita komedi?

Banyak memang yang kita bisa pikirkan. dan tahap itu tentu saja harus dimulai dengan banyak menulis. Ayo ... minggu ini sudah berapa cerita yang dikirim ke media?

Kamis, 05 Juli 2007

#9 Bacalah

Bacalah!

Saya selalu meminta kepada calon penulis untuk membaca buku-buku cerita anak sebanyak mungkin. Mengapa? Dengan banyak membaca, kita bisa banyak mengikat makna (pinjam istilah Mas Hernowo). Tentunya kita tak lagi sekadar membaca ketika ingin jadi penulis. Bacaan yang kita telan harus kita cari kelebihannya. Misalnya penulis Enid Blyton, apakah kelebihannya? Jacqueline Wilson bagian mana yang menarik? Astrid Lindgren apa yg menonjol?

Biarkan bacaan itu merasuk ke tubuh kita. Lalu kita rasakan. Apakah kita bisa menulis lebih baik dari kekurangannya? Ataukah kita bisa mengikuti kelebihannya?

Cobalah buat daftar buku yang sudah kita baca, lalu kelompokkan menjadi beberapa. Ada kelompok yang menonjol dari unsur ceritanya, ada yang dari karakter, ada yang dari setting, ada yang kuat di dialog, kuat dari referensi sains dan sebaginya. Buat pula semacam catatan kecil dari buku yang kita baca.

Banyak penulis pemula merasa canggung ketika tulisannya dirasa mirip penulis panutannya. Menurut saya itu bukan masalah. Sama halnya seperti penyanyi pemula yang gaya menyanyinya masih mirip penyanyi senior. Namun dengan jam manggung yang tinggi, mereka akan menemukan jati diri. Begitu pula dengan penulis. Dengan semakin banyak membaca dan menulis, mereka akan menemukan gaya menulisnya sendiri.

Toh, meniru yang bagus dan baik bukan suatu kesalahan. Sepanjang tidak ada plagiasi. Jadi sebaiknya kita penuhi referensi bacaan kita dengan jenis-jenis buku yang baik pula.

--------------------------------------
pertanyaan terkait tema ini bisa ke:
benny.rhamdani@gmail.com

#8 Buat Daftar Boleh dan Tidak Boleh

Cobalah teman-teman mulai membuat daftar sendiri hal-hal yang boleh kita tuliskan sebagai cerita anak, juga tidak boleh. Bayangkan saja cerita anak itu untuk kita baca sendiri atau untuk anak-anak yang kita sayangi. Untuk beberapa contoh ini ada paparannya.


Saya hanya boleh menulis cerita yang:
  1. Mengajarkan prinsip hidup yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran moral dan kebaikan;
  2. Menggunakan bahasa anak yang sederhana dan mudah dimengerti;
  3. Selain mengajarkan nilai-nilai hidup juga mendorong anak untuk mengaplikasikan dengan benar dalam kehidupan nyata;
  4. Memperkuat nilai-nilai moralitas dan etika yang baik;
  5. Membantu anak mengembangkan wawasan yang lebih luas;
  6. Memberi nilai hiburan yang sehat;
  7. Mengembangkan daya imajinasi anak tanpa menyangkal realita yang ada;
  8. Meningkatkan rasa kasih kepada kemanusiaan tanpa membedakan ras, suku, warna kulit dan budaya;
  9. Mendorong anak untuk mencintai dan menghargai hidup.
Saya tidak akan menulis cerita yang:
  1. Menentang nilai-nilai moralitas dan kebaikan;
  2. Menekankan pada kekerasan, kejahatan, kekejaman semata;
  3. Mengumbar nafsu dan dosa;
  4. Menantang dan melawan otoritas orang tua atau guru dengan cara yang tidak baik;
  5. Menyita banyak waktu anak;
  6. Menghina ras, suku, warna kulit, budaya yang berbeda dengan anak;
  7. Mengajarkan nilai budaya yang tidak sesuai dengan norma masyarakat setempat;
  8. Mendorong anak untuk berpikir negatif tentang hidup;
  9. Tidak menghargai lingkungan dan alam;
Dengan membuat daftar ini, kita secara otomatis akan membuang ide-ide yang datang namun bertentangan dengan nurani kita.

Silakan tamabhkan daftar di atas, atau buang yang tidak sesuai dengan Anda.

#7 Pesan dan Misi

Mestikah kita menyisipkan pesan moral di dalam cerita anak yang kita buat? Ya! Menurut saya inilah kewajiban moral seorang penulis anak. Mengingat aktivitas membaca memungkinkan terjadinya perubahan kognitif, afektif dan behavioral pada anak, maka kita bisa menyisipkan pesan moral kepada pembaca kita.

Tetapkan misi kita itu secara mendalam di hati kita. Karena kita tidak ingin sekadar menyajikan cerita kosong belaka. Tentunya kita tidak bisa menuliskan pesan itu secara eksplisit. Dengan banyak membaca dan berlatih, kita akan bapat menyampaikan pesan moral secara halus di setiap cerita kita.

Ada beberapa hal yang bisa kita sisipkan dalam cerita yang kita buat, sehingga memberi manfaat antara lain:

1. Menghargai nilai etika dan moral yang luhur;
2. Mengembangkan daya imajinasi yang kuat;
3. Membuka wawasan dunia yang luas dan kaya;
4. Berbagi pengalaman hidup dengan tokoh cerita;
5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan praktis;
6. Menghargai sesama manusia;
7. Mengekspresikan emosi dan perasaan yang dimiliki;
8. Menajamkan daya ingat;
9. Mengasah intelektual dan kreatifitas;
10. Menimba pengetahuan;
11. Mempelajari estetika tulisan dan bahasa;
12. Menambah keterampilan berbahasa daerah, nasional atau asing.
Dengan demikian, melalui cerita kita dapat mengembangkan bukan hanya IQ anak (kecerdasan intelektual) tetapi juga EQ anak (kecerdasan emosi).

#6 Kenali Pembaca

Agar cerita kita tepat sasaran, sebaiknya kita kenali dulu calon pembaca cerita kita.
Anggap saja kita ingin menulis cerita anak di majalah BOBO, maka kita harus faham betul karakter pembaca majalah BOBO. Range umur mereka berapa? Kota tempat mereka tinggal mayoritas di mana? Gaya hidup mereka bagaimana?

Pembaca majalah BOBO berbeda dengan pembaca majalah MOMBI. Segmen usia pembaca MOMBI jelas lebih muda. Begitu pula ketika kita hendak menulis buku cerita anak. Kita harus pastikan dulu, untuk siapa kita menulis.

Dengan mengenali calon pembaca kita, maka kita akan mudah menentukan banyak hal dalam penulisan cerita. Mungkinkan pembaca yang kitas sasar umumnya menyenangi genre fantasi, atau detektif cilik atau petualangan atau misteri? Kita juga bisa membangun bahasa yang bagaimana; yang sederhana, lebih rumit atau mencampuri dengan istilah-istilah asing.

Kita tidak bisa menyamaratakan semua pembaca. Bicaralah dengan bahasa kaum mereka. Untuk anak usia balita, kita bisa menggunakan bahasa yang sederhana. Maksimal misalnya 8 kata dalam satu kalimat. Hindari kalimat bertingkat. Hindari pula frasa yang sulit untuk dimengerti.

Yaumil Achir (1998) mengklasifikasikan perkembangan minat baca anak dalam 3 kelompok.

Kelompok I, usia 1-3 tahun, anak memiliki kebiasaan merobek kertas. Oleh sebab itu, orangtua hendaknya memanfaatkannya dengan menyediakan buku atau gambar dengan warna yang menarik, namun berbahan tebal atau elastis. Yup, kita bisa membuat cerita yang sekiranya nanti akan lebih banyak tampilan visualnya dan diterapkan dibahan boardbook.

Kelompok II, usia 2-3 tahun, anak sudah bisa merangkai beberapa kata atau kalimat yang merupakan gagasan. Pada usia ini, orangtua hendaknya mampu memberikan bacaan yang dapat memancing kreativitas, dengan membacakan atau menceritakan isinya. Umumnya bacaan yang digemari anak adalah cerita yang menyenangkan. Nah, penulis sudah bisa menyisipkan cerita sedarhana yang menarik.

Kelompok III, usia 5-7 tahun. anak-anak sudah mengonsumsi kata-kata, gagasan-gagasan, dan konsep-konsep yang merupakan representasi dari hal-hal yang telah dialami dan disimpan secara mental, baik melalui pengalaman atau yang diterima secara tidak langsung. Pada usia ini mereka umumnya senang membaca buku atau cerita yang isinya menarik.

Untuk cerita anak-anak SD kita bisa lebih mengeksplorasi kosa kata. Menjelaskan kata-kata baru dalam paragraf secara cermat. Kita bisa bermain dengan cerita, memasukkan gaya bahasa.

Dengan mengenali pembaca, kita juga bisa mengetahui kebutuhan pembaca kita. Hal apa yang sedang digandrungi mereka, yang menjadi cita-cita mereka. Kita boleh saja menempatkan masa kanak-kanak kita dalam konteks kekinian. tapi kita sebaiknya memeriksa juga. Siapa tahu hal tersebut sudah dianggap basi dan tidak menarik buat anak-anak sekarang. Lalu apa yang mesti kita tambahkan atau kurangi.

Sekali lagi, kenali (calon) pembaca kita.

Rabu, 04 Juli 2007

#5 Berapa Panjang?

Berapa panjang cerita anak yang harus kita buat?

Tergantung untuk siapa kita menulis. Jika kita ingin menulis untuk media cetak, maka kita harus amati langsung. Umumnya beberapa majalah mengehndaki panjang sekitar 3 halaman.
Jika kita hendak menulis untuk novel, tentu saja beraneka ragama. setiap penerbit punya kebijakan masing-masing. Kita tidak dilarang untuk bertanya. Malah sebaiknya kita bertanya, jangan-jangan mereka tidak tertarik menerbitkan buku cerita anak. Bila malu bertanya, kita bisa mengunjungi wesite mereka. Biasanya mereka menyediakan fitur khusus untuk pengiriman naskah. Ada juga beberapa penerbit yang menerima naskah cerita anak untuk pictorial book, biasanya hanya sepanjuang satu halaman.

Sebagai penulis, sebaiknya kita bisa mengatur panjang atau pendek cerita yang akan kita tulis.
Sewaktu menulis untuk majalah Bobo yang meminta maksimal tiga halaman, kita harus bisa memetakan di mana konflik, sampai mana cerita harus memasuki tahap penutupan sehingga tidak lebih dari batas maksimal.

Begitu pula saat menulis untuk novel anak. Bukan berarti buku Harry Potter yang lebih tiga ratus halaman itu harus kita ikuti. Siapa tahu untuk naskah lokal, penerbit hanya minta 50 halaman.

Perlunya kita mengetahui berapa panjang halaman yang kita tulis adalah:
1. Kita bisa memetakan cerita dengan efektif.
2. Mengurangi resiko naskah ditolak karena kepanjangan atau kependekan.

meski demikian, kita tidak perlu stres, menghitung terus jumlah halaman. SEbaiknya dipetakan, tulis, baru edit. Mungkin kalau kepanjangan kita bisa menghapus beberapa kalimat tidak efektif. Kalau kependekan kita bisa menambahkan satu-dua konflik kecil, atau sub cerita yang menambah dinamika cerita yang kita buat. Misalnya menyisipkan dialog humur atau kejadian lucu. Hindari membuat kalimat bertele-tele demi mengejar target halaman, tapi berefek jelek terhadap keutuhan cerita yang kita susun.

----

silakan pertanyaan berkait tema ini dilayangkan ke: benny.rhamdani@gmail.com
tengok juga: http://bennyrhamdani.multiply.com/

Minggu, 01 Juli 2007

#4 Membuka Cerita

Apakah Anda masih menulis pembukaan cerita dengan kalimat seperti ini:

Pada suatu hari yang cerah, hiduplah seorang raja di sebuah kerajaan yang makmur ....

atau

Angin bertiup sepoi-sepoi melintasi dedaunan hingga sebuah daun jatuh. Daun itu kemudian tertiup angin. Pagi ini indah sekali ....

Wah, saya acungkan jempol jika ada penulis yang masih bertahan dengan gaya pembukaan cerita seperti di atas. Saya tidak bilang jelek, tapi menurut saya tidak efektif menggugah pembaca. Salah satu syarat mutlak kalimat pembuka adalah; harus memancing pembaca menamatkan cerita yang sudah mulai dibacanya.

Dalam kelas menulis yang diajarkan penulis Kanada Deborah Ellis, Beliau menyampaikan satu contoh: Ayah pergi keluar rumah sambil membawa sebilah kapak. Apa yang akan dilakukan Ayah?

Ya, siapapun yang membaca kalimat itu tentunya akan penasaran mengikuti ceritanya. Tentu saja kita bisa membuat variasi lainnya. Kalimat pembuka bisa dimulai dengan situasi seperti yang dicontohkan Deborah. Tapi kita juga bisa memulainya dengan narasi atau monolog, misalnya:
Aku membenci Ibu. Ibuku tidak seperti ibunya Lona yang bekerja di bank, ibunya Sania yang dosen, ibunya Tia yang reporter televisi. Juga tidak seperti ibunya Vivi yang bintang sinetron. Ibuku hanya bekerja di rumah. .....

Kita juga bisa memulai dengan setting yang menarik, seperti:
Pernahkah kalian membayangkan ada mobil melewati rumah kalian? Tapi Retno mengalaminya. Dia tinggal di bawah jalan layang ....

Nah, sekarang cobalah membuka setiap cerita kita dengan hal-hal yang menarik. Bisa dari beberapa elemen, seperti tokoh, setting, situasi, dialog, seperti ini:

"Jadi malam ini akan ada hantu di kamarmu?"
"Ya, hantu keren. Kamu mau lihat?"
Wita langsung mendelik mendengar jawaban Ovie.

Jumat, 29 Juni 2007

#3 Karakter Harus Kuat

Saat menyusun cerita, yakinkan bahwa karakter/tokoh dalam cerita kita itu sangat kuat sehingga akan tertanam di kepala pembaca. Tonjolkan hal yang paling menarik dari karakter cerita kita. Bukan sekadar dia duduk di kelas lima SD, ramputnya dikepang. Atau dia anak kedua dari tiga bersaudara yang pintar.

Coba ingat alasan kita terus mengenal Pippi Longstocking, Georgina/George Lima sekawan, Lupus, Pinokio, Harry Potter .... Mereka semua berbeda dari karakter umumnya. Ya, penulisnya bisa menonjolkan keunikan dari karakter yang mereka ciptakan. Sehingga orang bisa jadi lupa pada ceritanya, tapi mengingat terus karakter tersebut.

Kekuatan karakter bisa kita angkat dari berbagai sisi, seperti fisik, kebiasaan, hobi, kesukaan, keahlian, atau bahkan kekurangan. Jika tidak percaya, cobalah ingat beberapa teman lama kita. Biasanya yang menarik perhatian adalah yang berbeda dengan lainnya. Kita bisa memindahkan keunikan yang dimiliki orang-orang di sekitar kita ke karakter cerita kita. Saya sarankan hal ini karena kita akan lebih mudah mengembangkan karakternya karena memang ada modelnya.

Cobalah bermain dengan berbagai karakter yang unik. Biasakan untuk membentuk karakter yang beragam di setiap cerita yang kita tulis. Sekali lagi, kekuatan karakter akan membentuk kekuatan cerita kita secara keseluruhan.

#2 Bahasa yang Jernih

Bahasa adalah kaca pada jendela. Ide dan cerita adalah pemandangan di luar sana. Jika kita menulis dengan bahasa yang rumit dan berbelit, pembaca tidak bisa menikmati ide dan cerita yang kita tulis. Maka, teruslah berlatih menulis untuk mencapai tingkat yang baik dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis.

Cara lainnya agar kemampuan bahasa tulis kita meningkat adalah memperbanyak kuantitas bacaan kita. Semakin banyak kita membaca, akan kian banyak pula kosakata yang kita serap. Dengan melatihnya dalam penulisan, akan semakin meningkat pula kemampuan kita dalam menata diksi.

Diksi bukan hanya sekadar untuk memilih kata yang tepat. Diksi juga bisa memperjelas ide. bahkan, diksi juga bisa kita pakai untuk memperindah cerita. Jadi, perkaya terus perbendaharaan kata yang kita miliki dan praktikan dalam menulis.

Jangan ragu untuk menulis dengan keragaman diksi. Anak-anak pun perlu kita tulari dengan beragam kosakata. Jangan remehkan kemampuan menyerap bahasa anak-anak. Sepanjang kita meletakkannya pada kalimat yang benar dan konteks yang tepat, kosakata yang jarang digunakan pun bisa dimengerti oleh mereka.

#1 Mulai dari Pengalaman Pribadi

Banyak yang bertanya, bagaimana cara memulai untuk menulis cerita anak yang mudah?
Tentu saja tidak ada yang mudah jika kita tidak memulai dan berusaha. Juga tidak ada yang sulit ketika kita sudah memulai dan berusaha.

Untuk menulis cerita anak yang termudah adalah coba tuliskan pengalaman yang pernah kita alami di masa anak-anak. Bisa pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain (teman sebangku, teman sekelas, teman tetangga, teman les, sepupu, atau siapapun yang ada di sekitar kita).

Tentunya kita harus memilih peristiwa yang menarik untuk dituliskan. Peristiwa menarik adalah bukan peristiwa biasa yang semua orang pasti mengalami, melihat atau merasakan. Peristiwa menarik juga bukan peristiwa yang sudah sering diceritakan banyak orang.

Cobalah susun beberapa peristiwa menarik itu, lalu cobalah saring dengan beberapa kriteria, misalnya: peristiwa yang menyedihkan/mengharukan, peristiwa yang menggelikan/lucu, peristiwa menegangkan/menakutkan, dan sebagainya.

Jika kita akhirnya menemukan peristiwa yang paling menarik dari berbagai kriteria itu, cobalah tuliskan apa adanya. Setelah selesai, coba dibaca berulang kali. Jika kita merasa bosan, maka bayangkan orang lain akan tiga kali lebih bosan dari kita. Artinya kita harus menambahkan bumbu agar peristiwa yang menarik itu menjadi sebuah cerita yang tidak membosankan. Tentu saja bumbu yang pas.

Teruslah untuk melewati tahap ini. Coba terus menulis berdasarkan pengalaman pribadi, karena jauh lebih mudah untuk seorang pemula ketimbang bereksplorasi dengan imajinasi.

-----------------------------
benny.rhamdani@gmail.com